Thursday, July 1, 2010

Lebih dari sekedar Uang

Beberapa kalimat yang pernah ku baca dalam sebuah artikel dan sangat bermakna. Kata-kata ini menjadi inspirasi buat aku, dan bisa juga menjadi sebuah prinsip dalam hidup, bahwa ada sesuatu yang melebihi uang, yang tak dapat dibeli atau dijual seenaknya..

Money can buy a house, but not a home.
Money can buy a bed, but not sleep.
Money can buy a clock, but not time.
Money can buy a book, but not knowledge.
Money can buy food, but not an appetite.
Money can buy position, but not respect.
Money can buy blood, but not life.
Money can buy medicine, but not health.
Money can buy sex, but not love.
Money can buy insurance, but not safety.

~ ~ ~
Ingatlah, uang bukanlah segalanya. Ada banyak sekali hal lain yang lebih  berharga dari sekedar uang.

Aku Tanpa Topeng

Topeng... Topeng....
Ku mulai hidup memakai topeng
Topeng yang terlihat indah
Berkilau dan menawan
Menarik hati setiap orang yang melihatnya

Topeng warna-warni
Penghias hari-hariku
Membuat diri seakan-akan bahagia
Penuh tawa dan sukacita...

Namun topeng yang tertancap di wajahku
Membuat aku lupa siapa diriku sesungguhnya
Topeng yang hidup dan mulai ingin berubah menjadi diriku

Topeng sudah memulai langkahnya untuk menghilangkan jati diriku..
Topeng mulai berpengaruh kuat atas hidupku....

Hasrat Hati mulai terganggu
Tidak... Tidak...
Batinku menolak dengan sangat
Tidak... Tidak...
Aku berteriak dengan kencang
Aku tidak mau... Lepaskan aku...
Namun pengaruhnya mulai memaksaku..
Terhipnotis aku dengan kehendak Sang Topeng...

Aku lelah.. Tak sanggup berpijak lagi..
Keletihan mulai merobek jiwaku..
kebohongan.. kemunafikan...
Mulai merusak sebagian pribadi baikku..

Hampa... Kering... Takut.... Ngeri..
Semua perasaan yang tak karuan
Datang membayangi aku... Berjalan menaungi hari-hariku...
Ahhhhh... AKu tak sanggup... AKu tak Sanggup...
Topeng mulai menari-nari di dalam hidupku....

Namun, dalam keadaan yang buruk dan gelap itu...
Teringatku dengan Yang KUASA
Berusaha meminta dan mengadu
apa yang kualami...

Aku ingin bersuara sambil berteriak
Tapi, Mulut terkatup dan membisu
Keadaan diri mulai menekan batinku

Namun, dalam diri yang paling dalam
Hati Nuraniku mulai berteriak lebih kencang dari mulut lidahku..
Nuraniku berseru dengan sangat...
TUHAN... ohhh TUHAN.....

Belenggu seperti terlepas..
Kegelapan menyingkir....
TERANG Datang bersinar
Topeng di wajah retak
Perlahan-lahan serpihan berjatuhan
Lepas dari wajahku tempat topeng itu terpaku..

Berangsur-angsur...
Damai.. ketenangan..
menyelimuti diriku...

Inilah damai sejati... Yaaa... Damai yang selama ini kucari...
Hanya kutemukan dalam DIA.... pembebas dan penyembuhku..

Ya.. Dia TUHAN ku.. yang menerima diriku apa adanya..
Disaat orang tak menerimaku bahkan membuangku....
Tanpa topeng.. aku menjadi diriku...
Yaaa.. akulah aku..
Bukan orang lain..


Aku.... Tanpa Topeng.....
Adalah diriku

TERIMA KASIH (buat bintang yang pernah mengisi malam-malamku)

Saat ini,
sebelum mentari tersenyum di timur
sebelum embun menghapus kelam
aku ingin berbisik pada bintang :

Terima kasih, bintang
`tuk menemaniku malam ini
dan malam-malamku sebelumnya.

Memang sih... kau jauh di sana
namun binarmu mampu mengusik sepiku

setidaknya...
aku tak pernah merasa sendiri
walau nyata sekali
kalau aku cuma punya sepi dan mimpi.

Terima kasih, bintang
Kembali aku berbisik.
Saat ini, sebelum aku melangkah
aku ingin memandangmu, sekali lagi
Mengenang senyummu, atau celoteh yang
pernah kau titipkan lewat angin

Ya...cuma lewat angin
Karena kau sungguh jauh di sana.

: Memang sih...sesekali kau berkedip
namun sejujurnya
itu tak cukup menghalau laraku
apalagi saat ini aku lagi bertarung dengan nasib
dan bergumul dengan luka.
Ah...mana kau mengerti
Karena kau jauh di sana
Di bentangan cakrawala nan kelam
Sibuk berbagi binar pada makhluk-makhluk malam.

Selamat malam, bintang
Demikian aku selalu menyapamu dan kau tersenyum
Tahukah kau, bisikku lagi
aku bahagia. Itu cukup bagiku
Terkadang aku menitipkan rindu pada angin
Ya...lagi-lagi pada angin
Dan lagi-lagi
aku merasa cukup
setidaknya kau ada dalam mimpiku,
begitu selalu aku berkata pada hatiku

Tapi,
Saat mendung mengabut di mataku
atau terkadang guntur membuatku gemetar
aku mencarimu. Dan
tak kutemukan dirimu
karena kau jauh di sana
tak terjangkau angan
Hingga aku pun mengerti
kalau kau memang hanya bintang
yang mampu bersinar namun tak memberi hangat
yang mampu berbagi binar cuma dari kejauhan.

Ya...kau cuma bintang
yang pernah mengusir sunyiku,
toh sebentar lagi malam berganti pagi
dan kau pun `kan pergi
aku pun harus melangkah
menjejal pagi dengan asa
tanpamu
ya...tanpamu
karena kau cuma bintang
dan aku mengerti

Saat aku benar-benar jatuh
kau tak pernah ada
karena kau jauh, jauh sekali...
tapi sebelum pagi benar-benar hadir
aku mau menyapamu
dan katakan sekali lagi :
Terima kasih, bintang...

Thursday, May 27, 2010

Beware, With Our Tongue!!


Sebuah pena dapat menghasilkan tulisan-tulisan bahkan dapat menggambarkan sesuatu yang indah agar dapat dilihat, dibaca dan dimengerti. Demikian Lidah, ia seperti sebuah pena yang dapat menulis dan melukiskan peristiwa-peristiwa yang dahulu, sekarang bahkan untuk yang akan datang.

Seperti kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Demikian Lidah, ia adalah sebuah anggota tubuh yang kecil tetapi dapat dipakai untuk mendatangkan perkara – perkara yang besar.

Ambillah juga kapal sebagai contoh. Meskipun kapal adalah sesuatu yang begitu besar dan dibawa oleh angin yang keras, namun ia dikendalikan oleh kemudi yang sangat kecil, menurut keinginan jurumudi. Demikian dengan lidah kita, sesuatu yang kecil tetapi dapat mengendalikan seluruh tubuh, keadaan pribadi, orang – orang , bahkan lingkungan sekitar dimana kita berada.

Lidah bisa seperti madu yang sangat manis dan menyehatkan, namun lidah juga bisa seperti racun yang mematikan. Oohhh, lidah bisa menjadi sesuatu yang positif sekali tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang negatif sekali.

Dengan Lidah kita dapat membunuh, Dengan lidah juga kita dapat memberi kehidupan, pengharapan, semangat yang baru bagi diri sendiri, orang lain ataupun keadaan dan lingkungan sekitar kita.
 
Mmhhh… Kalau dibayangkan, ternyata hebat banget pengaruh dari sebuah lidah. Emang jangan pernah pandang rendah sesuatu hal, apalagi lidah. Mungkin ia terlihat biasa aja, tapi ternyata kalau bisa dipergunakan semaksimal mungkin maka berasa sekali dampak yang diberikannya.

Ada pepatah mengatakan, hidup dan mati dikuasai oleh lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya“. Oleh Sebab itu, jagalah setiap perkataan kita, karena hukum alam sudah berkata “apa yang kamu tabur, akan kamu tuai”. Menabur sesuatu yang negatif, pasti akan menuai juga yang negatif. Menabur yang positif akan menuai yang positif juga. Menabur banyak, menuai banyak. Menabur sedikit, menuai sedikit juga. (By : Hadassah)

Beware, with our tongue!!

Wednesday, May 26, 2010

I Am Who I Am For A Reason

I am who I am for a reason
I am part of an inticate plan
I am a precious and perfect unique design
Called God’s Special woman

I look like I look for a reason
My God made no mistake
He knit me together within the womb
I am just what he wanted to make

The parents I had were the ones he chose ,
And no matter how I may feel
They were custom-designed with God’s plan in mind,
And they bear the Master’s seal.


 
No, that trauma I faced was not easy.
And God wept that it hurt I so
But it was allowed to shape My heart
So that into his likeness I’d grow


I am who I am for a reason,
I’ve been formed by the Master’s rod
I am who I am, beloved,
Because there is a God...